OKTOBER BULAN PEDULI KANKER

Bulan Kesadaran Kanker Payudara, yang ditandai di negara-negara di seluruh dunia setiap bulan Oktober, membantu meningkatkan perhatian dan dukungan untuk kesadaran, deteksi dini dan pengobatan serta perawatan paliatif penyakit ini.

 

Kenali ciri-ciri kanker payudara

Kanker payudara merupakan penyakit yang disebabkan oleh berkembangnya sel kanker di daerah payudara. Penyakit ini kebanyakan menyerang perempuan, tetapi laki-laki pun bisa terkena penyakit ini. Kanker payudara merupakan jenis penyakit kanker dengan jumlah penderita terbanyak nomor dua di dunia. Sedangkan dari tingkat kematian, jenis kanker ini menyebabkan kematian nomor lima terbesar di dunia.

Tanda awal kanker payudara adalah ditemukannya benjolan yang terasa berbeda pada payudara. Jika ditekan, benjolan ini tidak terasa nyeri. Awalnya benjolan ini berukuran kecil, tapi lama kelamaan membesar dan akhirnya melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit. Tes mammografi biasanya dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidaknya kanker payudara.

 

Berikut antara lain hal-hal yang harus Anda perhatikan yang merupakan gejala kanker payudara:

  •  benjolan pada payudara anda berubah bentuk / ukuran.
  •  kulit payudara berubah warna: dari merah muda menjadi coklat hingga seperti kulit jeruk.
  •  puting susu masuk ke dalam (retraksi).
  •  salah satu puting susu tiba-tiba lepas / hilang.
  •  bila tumor sudah besar, muncul rasa sakit yang hilang-timbul.
  •  kulit payudara terasa seperti terbakar.
  •  payudara mengeluarkan darah atau cairan yang lain, padahal Anda tidak menyusui

 

Tanda kanker payudara yang paling jelas adalah adanya borok (ulkus) pada payudara. Seiring dengan berjalannya waktu, borok ini akan menjadi semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara. Gejala lainnya adalah payudara sering berbau busuk dan mudah berdarah. Jika tanda-tanda tersebut sudah semakin parah, sebaiknya langsung memeriksakan diri ke dokter.

 

Sel kanker merupakan sel yang mengalami pertumbuhan abnormal. Begitu juga dengan sel kanker payudara, sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab spesifik kanker payudara. Walaupun demikian, terdapat sejumlah faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara, antara lain:

  • perubahan sifat pertumbuhan sel payudara menjadi ganas. 
  • tubuh gagal membangun sistem pertahanan tubuh
  • faktor gizi yang buruk pada makanan yang dimakan
  • penggunaan hormon estrogen (misalnya pada pengguna terapi estrogen replacement)
  • payudara yang sering diremas / dipencet
  • minum alkohol dan merokok
  • obesitas pada wanita setelah menopause: diet berpengaruh terhadap keganasan sel kanker
  • konsumsi lemak dan serat
  • radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas; tergantung dosis dan umur saat terkena paparan radiasi
  • faktor genetik dan riwayat keluarga (hubungan dengan gen tertentu). 

Saat ini belum ada pengetahuan yang memadai tentang penyebab kanker payudara, oleh karena itu deteksi dini penyakit ini tetap menjadi hal terpenting dalam pengendalian kanker payudara. Ketika kanker payudara terdeteksi sejak dini, dan jika diagnosis serta pengobatan yang memadai tersedia, ada kemungkinan besar bahwa kanker payudara dapat disembuhkan. Namun, jika terlambat terdeteksi, pengobatan kuratif seringkali tidak lagi menjadi pilihan. Dalam kasus seperti itu, perawatan paliatif untuk meringankan penderitaan pasien dan keluarganya diperlukan. Konsultasi dan lakukan pemeriksaan skrining sesuai indikasi pada individu dengan risiko tinggi untuk deteksi dini adanya kanker. Pemeriksaan skrining yang dapat dikerjakan untuk deteksi dini adalah usg payudara atau mammografi

Tidak hanya wanita, kanker payudara juga dapat menyerang pria. Nah, kalau pita pink untuk wanita, maka pita biru menjadi simbol kepedulian terhadap kanker payudara pada pria.

RS Antam Medika

Jl. Pemuda Raya No.1A Pulo Gadung
Jakarta Timur, 13210.
WhatsApp :0811-1785-775
Telp : 021 80614888 marketing ext Dept. HRD 6090
Faks : 021 29378941
Email : rumahsakit@antammedika.co.id
Web : www.antammedika.co.id
Twitter : @antammedika
IG : antammedika

Sumber :

www.yes24.co.id
https://www.who

BAGAIMANA CARA MENJAGA KESEHATAN MATA?

Mata merupakan salah satu indra tubuh yang berfungsi untuk melihat. Mata dapat menyesuaikan diri dengan jarak dan cahaya ketika melihat objek. Fungsi mata dapat menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun dapat mengalami gangguan saat melihat benda dengan jarak dekat.
Selain itu mata juga dapat terjadi gangguan karena terdapat aktifitas yang diyakini dapat menyebabkan masalah pada penglihatan. Berikut beberapa aktifitas yang dianggap penyebab masalah penglihatan:

Beraktifitas didepan komputer setiap hari dapat merusak mata
Terlalu lama melihat layar bisa membuat mata lelah, kering, dan sakit kepala. Tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dapat menyebabkan kerusakan permanen. Anda dapat melakukan terapi 20-20-20 yaitu setiap 20 menit alihkan mata dari layar, fokuslah pada benda yang berjarak 20 kaki selama 20 detik.

Film 3 dimensi memberikan dampak buruk bagi mata
Film 3 dimensi tidak dapat mengganggu penglihatan. Tanda dan gejala seperti sakit kepala atau pusing saat menonton atau bermain kemungkinan menandakan masalah.

Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya katarak
Merokok ketika di usia muda dapat meningkatkan resiko terjadinya katarak pada usia tua. Selain katarak, rokok juga dapat memperburuk gejala kondisi mata lainnya.

Apakah dibutuhkan pemeriksaan mata secara berkala?
Pemeriksaan mata dibutuhkan setiap 1 sampai 2 tahun untuk melihat kesehatan mata dan mendeteksi jika ada masalah penglihatan.
Apakah normal jika penglihatan dibatasi dengan lingkaran putih atau hitam ketika melihat?
Adanya lingkaran hitam atau putih terkadang menandakan terjadinya masalah yang serius seperti katarak atau glaukoma. Namun pada kasus tertentu bukan merupakan masalah serius, hanya membutuhkan beberapa terapi pengobatan dari dokter.
Terdapat titik yang blur atau hilang pada titik tengah penglihatan juga bukanlah kondisi normal yang memerlukan konsultasi dengan dokter. Salah satu penyebab adalah degenerasi makula yang mengakibatkan seseorang kehilangan penglihatan terutama pada orang lanjut usia.
Apakah fungsi menggunakan kaca mata hitam saat siang hari?
Sinar matahari dapat memicu terjadinya masalah mata seperti katarak dan degenerasi makula seiring bertambahnya usia. Melihat sinar matahari secara langsung dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina mata. Menggunakan kaca mata yang mampu menghalangi sinar UVA dan UVB dapat membantu menjaga mata.
Bagaimana cara menjaga mata?
Penuaan dan genetik merupakan faktor resiko gangguan mata yang tidak dapat dikontrol. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang membutuhkan kaca mata untuk membantu penglihatan. Beberapa hal dapat dilakukan untuk menjaga mata seperti :

Mengkonsumsi makanan sehat. Makanan yang mengandung antioksidan bagus bagi kesehatan mata karena dapat membantu menurunkan resiko terjadinya katarak.

Tidak merokok. Seseorang yang merokok memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami katarak dan gangguan mata lainnya.

Menggunakan kaca mata penangkal sinar matahari ketika harus bekerja atau beraktifitas diluar ruangan

Melakukan olahraga secara rutin agar terhindar dari penyakit degenaratif seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi.

Melakukan pemeriksaan mata secara rutin. Pemeriksaan mata secara berkala dapat berguna untuk mencegah terjadinya gangguan mata karena factor keturunan atau komplikasi dari penyakit seperti tekanan darah tinggi atau diabetes mellitus.

Segera berkonsultasi dengan dokter jika terjadi perubahan pada penglihatan. Beberapa tanda terjadinya gangguan pada mata adalah seperti penglihatan ganda, penglihatan menjadi kabur, dan sulit melihat pada ruangan yang kurang cahaya. Tanda dan gejala lain seperti mata merah, sering berkedip, nyeri pada mata, dan bengkak.

Dapatkan mata sehat dan cantik dengan gaya hidup sehat dan pemeriksaan

Periksakan kesehatan mata anda di Rumah Sakit Antam Medika

Jadwal praktek klinik spesialis mata :
dr. Diah, SpM Jumat Jam 10.00 WIB s.d Selesai
dr. Magda, SpM Senin, Rabu dan Kamis Jam 09.00 WIB s.d Selesai

Sumber Artikel : Vivahealth.co.id

Apa Artinya ‘AIDS’?

 

AIDS adalah kependekan dari ‘Acquired Immune Deficiency Syndrome’. Acquired berarti didapat, bukan keturunan. Immune terkait dengan sistem kekebalan tubuh kita. Deficiency berarti kekurangan. Syndrome atau sindrom berarti penyakit dengan kumpulan gejala, bukan gejala tertentu. Jadi AIDS berarti kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah kita lahir.

AIDS disebabkan oleh virus yang disebut HIV atau Human Immunodeficiency Virus. Bila kita terinfeksi HIV, tubuh kita akan mencoba menyerang infeksi. Sistem kekebalan kita akan membuat ‘antibodi’, molekul khusus yang menyerang HIV itu.

Tes darah untuk HIV mencari antibodi tersebut. Jika ditemukan antibodi tersebut di darah kita, berarti kita terinfeksi HIV. Orang yang mempunyai antibodi terhadap HIV disebut ‘HIV-positif’ atau terinfeksi HIV.

Menjadi terinfeksi HIV bukan berarti kita AIDS. Banyak orang terinfeksi HIV tidak menjadi sakit selama bertahun-tahun. Semakin lama kita terinfeksi HIV, semakin rusak sistem kekebalan tubuh kita. Virus, parasit, jamur dan bakteri yang biasanya tidak menimbulkan masalah bagi kita dapat menyebabkan penyakit jika sistem kekebalan tubuh rusak. Penyakit ini disebut ‘infeksi oportunistik (IO)’.

Bagaimana Kita Terkena AIDS?

Sebetulnya, kita tidak ‘terkena’ AIDS. Kita mungkin terinfeksi HIV, dan kemudian mengembangkan AIDS. Kita dapat tertular HIV dari seseorang yang sudah terinfeksi, walaupun orang itu tidak kelihatan sakit, bahkan dengan hasil tes HIV yang tidak positif. Darah, cairan vagina, air mani dan air susu ibu seseorang yang terinfeksi HIV mengandung virus yang cukup untuk menularkan orang lain. Sebagian besar orang tertular HIV melalui:

  • hubungan seks dengan orang yang terinfeksi HIV
  • penggunaan jarum suntik bergantian dengan orang yang terinfeksi HIV
  • kelahiran oleh ibu yang terinfeksi, atau disusui oleh perempuan yang terinfeksi HIV

Dulu ada yang tertular HIV melalui transfusi darah yang mengandung HIV (diambil dari seorang yang terinfeksi HIV), tetapi sekarang darah PMI diskrining secara sangat hati-hati, dan risikonya sangat rendah.

Belum ada kasus HIV ditularkan melalui air mata atau air ludah. Namun HIV bisa menular melalui seks oral (hubungan seks dengan mulut), bahkan dengan ciuman dalam. Penularan melalui ciuman dalam sangat jarang terjadi, kecuali jika ada luka berat pada mulut, atau gusi berdarah.

Pada 2012, Kemenkes memperkirakan ada 591.718 orang terinfeksi HIV di Indonesia. Namun pada akhir Maret 2014, hanya ada 134.053 orang diketahui terinfeksi HIV melalui tes sukarela. Pada waktu yang sama, 54.231 orang dilaporkan sudah sampai ke stadium AIDS dan 9.615 diketahui sudah meninggal dunia akibatnya.

Apa yang Terjadi Bila Kita Terinfeksi HIV?

Kita mungkin tidak tahu bahwa kita baru terinfeksi HIV. Kurang lebih 2-3 minggu setelah tertular, beberapa orang mengalami gejala mirip flu: demam, sakit kepala, otot dan sendi yang sakit, sakit perut, kelenjar getah bening yang bengkak, atau ruam pada kulit selama satu atau dua minggu. Gejala ini biasanya hilang tanpa diobati. Kebanyakan orang merasa ini memang flu. Beberapa orang tidak mengalami gejala apa pun.

Virus akan menggandakan diri dalam tubuh kita untuk beberapa minggu atau bahkan bulan sebelum sistem kekebalan tubuh kita menanggapinya. Selama masa ini, hasil tes HIV tetap negatif (yang kadang dilaporkan sebagai ‘non-reaktif’), walaupun kita sudah terinfeksi dan bisa menularkan orang lain.

Setelah menanggapi virus, sistem kekebalan tubuh mulai membuat antibodi. Setelah dibuat cukup banyak antibodi, hasil tes HIV akan menjadi positif atau ‘reaktif’. Setelah gejala mirip flu (jika terjadi), kita akan tetap sehat selama bertahun-tahun – beberapa orang tidak mengalami gejala selama sepuluh tahun atau lebih. Namun selama masa tanpa gejala ini, HIV terus merusak sistem kekebalan tubuh kita.

Satu cara untuk mengukur kerusakan pada sistem kekebalan tubuh adalah dengan menghitung jumlah sel CD4. Sel ini adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh. Orang yang sehat mempunyai jumlah CD4 antara 500 dan 1.500.

Tanpa terapi, jumlah CD4 kita kemungkinan akan terus turun. Kita mungkin mengalami gejala penyakit HIV, misalnya demam, keringat malam, diare, atau pembengkakan kelenjar getah bening. Gejala ini bertahan lebih dari beberapa hari, kemungkinan selama beberapa minggu.

Bagaimana Kita Tahu Kita AIDS?

Penyakit HIV menjadi AIDS waktu sistem kekebalan tubuh kita sangat rusak. Bila jumlah CD4 kita di bawah 200, atau persentase CD4 (CD4%) di bawah 14%, kita dianggap AIDS. Bila kita mengalami IO tertentu, kita dianggap AIDS. Kemenkes secara resmi mengeluarkan daftar IO yang mendefinisikan AIDS. Yang paling umum adalah:

  • TB (tuberkulosis), dalam paru atau di luar paru
  • PCP, semacam infeksi paru
  • CMV (sitomegalovirus), infeksi yang biasanya memengaruhi mata  dan
  • Kandidiasis, infeksi jamur dalam mulut atau vagina.

Gejala lain terkait AIDS termasuk kehilangan berat badan yang berlebihan, dan masalah kesehatan lain. Jika tidak diobati, IO dapat gawat.

AIDS berbeda untuk setiap Odha. Ada orang yang sampai ke AIDS beberapa bulan setelah terinfeksi, tetapi kebanyakan dapat hidup cukup sehat selama bertahun-tahun, bahkan setelah AIDS. Sebagian kecil Odha tetap sehat bertahun-tahun bahkan tanpa memakai terapi antiretroviral (ART).

Apakah Ada Obat Penyembuh AIDS?

Walaupun ada dua kasus orang yang disembuhkan, saat ini belum ada cara yang aman untuk menyembuhkan HIV. Belum ada cara untuk memberantas HIV dari tubuh kita. ART dapat menekan penggandaan virus dengan akibat kerusakan pada sistem kekebalan tubuh dihentikan dan dipulihkan. Kita dapat kembali tetap sehat, asal kita memakai ART secara patuh.

Obat lain dapat mencegah atau mengobati IO. ART juga mengurangi timbulnya IO. Namun masih ada beberapa IO yang sulit diobati.
Sumber : http://spiritia.or.id

Tips Mencegah Komplikasi Covid-19 Bagi Penderita Diabetes

Orang yang memiliki penyakit diabetes harus lebih waspada terhadap infeksi COVID-19. Berikut cara yang dapat dilakukan penderita agar terhindar dari infeksi virus corona serta komplikasinya.
Jakarta Penyakit COVID-19 yang telah mewabah selama lebih dari 6 bulan terakhir telah memakan banyak korban di seluruh dunia. Saat ini, terdapat penambahan lebih dari 200.000 kasus baru tiap harinya.
Di Indonesia sendiri belum ada tanda-tanda bahwa jumlah penambahan kasus COVID-19 akan menurun. Angkanya terus meningkat dan diperkirakan baru mencapai puncaknya pada semester awal tahun 2021.
Berbagai gejala yang dapat muncul dari penyakit COVID-19 ini sangatlah bervariasi, mulai dari tidak menunjukkan gejala (biasa dikenal dengan orang tanpa gejala/ OTG); gejala ringan, seperti demam, batuk, dan nyeri tenggorokan; hingga gejala berat, seperti sesak napas bahkan kematian.
Bervariasinya gejala-gejala tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti usia, tingkat imunitas tubuh, dan penyakit kronis yang diderita sebelumnya. Salah satu penyakit yang dapat berkontribusi dalam memperparah gejala COVID-19 adalah diabetes melitus.

_Risiko Komplikasi COVID-19 pada Penderita Diabetes_

Diabetes merupakan sebuah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah. Memiliki diabetes memang tidak akan meningkatkan risiko Anda untuk terkena COVID-19. Namun, jika Anda terinfeksi COVID-19, Anda akan berisiko mengalami gejala berat dan membutuhkan perawatan khusus di rumah sakit.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 25 persen orang yang dibawa ke rumah sakit akibat mengalami gejala serius dari infeksi COVID-19 memiliki penyakit diabetes. Hal tersebut dikarenakan memiliki gula darah yang tinggi dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan berbagai infeksi, termasuk infeksi virus corona.
Gula darah yang tinggi juga merupakan lingkungan ideal bagi virus untuk memperbanyak diri. Selain itu, penderita diabetes biasanya memiliki penyakit lain yang semakin memperberat kondisi mereka jika terinfeksi COVID-19, seperti turunnya sistem imun, penyakit jantung koroner, penyakit ginjal, dan lain-lain.

 

Cara Mencegah Komplikasi COVID-19 pada Penderita Diabetes

Jika Anda adalah penderita diabetes, jangan khawatir. Ada dua hal penting yang dapat Anda lakukan, yaitu sebisa mungkin menghindarkan diri dari infeksi COVID-19 dan mengontrol gula darah.
Untuk mencegah diri Anda dari terserang penyakit ini, cobalah untuk tidak keluar rumah kecuali untuk hal-hal yang sangat penting dan menjalankan berbagai protokol kesehatan. Misalnya, jika terpaksa harus keluar rumah, gunakanlah masker, cuci tangan secara rutin, dan jaga jarak.
Sedangkan untuk mengontrol gula darah, ada empat hal yang dapat Anda lakukan. Empat hal ini biasa dikenal dengan empat pilar penatalaksanaan diabetes melitus. Apa itu?

Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan mempelajari berbagai hal terkait diabetes. Makanan apa yang dapat meningkatkan gula darah dan apa yang tidak, olahraga apa yang harus Anda lakukan dan berapa durasi kebutuhan olahraga Anda, dan lain-lain.

Diet

Penyesuaian diet ditujukan untuk membantu menjaga kadar gula darah agar tidak meningkat.
Pada dasarnya, kebutuhan makanan bagi penderita diabetes hampir sama dengan kebutuhan masyarakat umum, yaitu gizi seimbang dan sesuai zat gizi. Anda hanya harus terus disiplin dalam menjaga makanan dan menghitung kualitas dan kuantitas kalori yang telah dikonsumsi.
Kurangi makanan-makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi, seperti roti, nasi, kentang, dan utamanya minuman-minuman soda dan manis karena asupan tersebut dapat meningkatkan kadar gula darah secara drastis dan mempercepat munculnya rasa lapar.
Pastikan juga Anda mengonsumsi cukup sayur, buah, dan berbagai sumber protein setiap harinya. Untuk minuman, Anda juga harus lebih memperhatikannya.
Salah satu jenis nutrisi diabetes kaya gizi yang tetap aman untuk penderita diabetes adalah Diabetasol. Diabetasol memiliki kandungan gizi yang lengkap dan dapat mencegah Anda dari rasa lapar berlebih. Hal tersebut tentu saja dapat mengurangi frekuensi makan dan membantu mengontrol gula darah Anda.

Olahraga

Lakukan olahraga rutin setiap harinya, minimal 30 menit setiap hari. Rutin berolahraga dapat membantu menstabilkan kadar gula darah dan meningkatkan kekebalan tubuh Anda.

Terapi

Jika Anda telah mendapatkan terapi diabetes dari dokter, maka lanjutkan konsumsi obat tersebut. Jangan lupa untuk memeriksa gula darah Anda untuk memastikan bahwa terapi yang Anda lakukan sudah sesuai.

Diabetes termasuk penyakit komorbid. Jika Anda memiliki penyakit ini dan terinfeksi COVID-19, Anda akan berisiko untuk mengalami gejala berat. Oleh karena itu, lakukanlah strategi pencegahan sedini mungkin

Sumber:klikdokter.com